Rabu, 29 April 2015

Artikel Kimia



Pembasmi Serangga (Insektisida)
 

Insektisida adalah bahan-bahan kimia bersifat racun yang dipakai untuk membunuh serangga. Insektisida dapat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan, tingkah laku, perkembangbiakan, kesehatan, sistem hormon, sistem pencernaan, serta aktivitas biologis lainnya hingga berujung pada kematian serangga pengganggu tanaman Insektisida termasuk salah satu jenis pestisida.

 
Sejarah penggunaan insektisida
Para pekerja kebun diketahui telah menggunakan sabun untuk mengontrol pertumbuhan hama serangga sejak awal tahun 1800an. Di awal abag ke 19, sabun yang terbuat dari minyak ikan paling banyak digunakan. Cara-cara tersebut cukup efektif, meski harus diberikan berkali-kali dan kadang justru mematikan tanaman. Belakangan diketahui juga adanya penggunaan campuran bawang putih, bawang merah, dan lada atau berbagai jenis makanan lainnya, namun tidak cukup efektif membunuh serangga.
Penggunaan insektisida sintetik pertama dimulai pada tahun 1930an dan mulai meluas setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada tahun 1945 hingga 1965, insektisida golongan organoklorin dipakai secara luas baik untuk pertanian maupun kehutanan. Salah satu produk yang paling terkenal adalah insektisida DDT yang dikomersialkan sejak tahun 1946. Selanjutnya mulai bermunculan golongan insektisida sintetik lain seperti organofosfat, karbamat, dan pirethroid pada tahun 1970an.
Sejak tahun 1995, tanaman transgenik yang membawa gen resistensi terhadap serangga mulai digunakan.

Materi
Bahan insektisida ini umumnya beracun karena mengandung karsinogenik, seperti kerbamat, fosfat, dan klorin.
Karsinogen (cancer-causing agents)adalah bahan yang dapat memicu ataupun mendorong terjadinya kanker. Beberapa peneliti memperkirakan 99,99% karsinogen yang kita cerna adalah alamiah.

Kanker mungkin telah terkenal sebagai penyebab kematian kelas wahid pada manusia sehingga banyak orang yang merasa takut apabila mendengar kata kanker. Sampai sekarangpun para peneliti masih terus mengkaji sumber daya alam untuk didayagunakan sebagai obat anti kanker baik sebagai multidrug resistance (MDR) modulator ataupun zat anti karsigonik lainnya. Tetapi perlu diketahui bahwa kanker tidak hanya disebabkan oleh asap rokok saja.

Karsinogen Alamiah

Tidak semua karsinogen berupa bahan kimia sintetik. Safrole dalam sassafras dan aflatoksin diproduksi oleh jamur pada makanan, merupakan senyawa alam. Beberapa peneliti memperkirakan 99,99% karsinogen yang kita cerna adalah alamiah. Tumbuh-tumbuhan memproduksi senyawa tertentu untuk melindungi mereka terhadap jamur, serangga, dan binatang termasuk manusia. Beberapa senyawa yang diproduksi ini adalah karsinogen yang ditemukan pada jamur, basil, seledri, kurma, bumbu, lada, adas, parsnips, dan minyak sitrus. Karsinogen juga dihasilkan selama pemasakan dan sebagai produk dari metabolisme normal.
Senyawa kimia karsinogen bervariasi, yang akan diuraikan di sini hanya beberapa karsinogen utama. Beberapa karsinogen yang sangat berbahaya adalah hidrokarbon aromatik, yang paling dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik terbentuk selama pembakaran tidak sempurna dari hampir setiap senyawa organik. Mereka ditemukan dalam batubara, asap rokok, pembakaran kendaraan bermotor, kopi, gula gosong dan sebagainya. Tidak semua hidrokarbon aromatik polisiklik merupakan karsinogen. Terdapat korelasi yang erat kekarsinogenan dengan ukuran dan bentuk tertentu dari molekul. Nampaknya sifat karsinogen tidak hanya disebabkan oleh hidrokarbon semata tetapi dapat terbentuk karena produk oksidanya dalam hati.
Jenis karsinogen yang lain adalah amina aromatik. Dua di antaranya adalah b-naftilamina dan benzidina. Kedua senyawa ini pernah digunakan di industri zat warna. Senyawa ini bertanggung jawab untuk kanker kandung kemih pada pekerja yang kontak lama dengan senyawa tersebut.
Beberapa pewarna aminoazo juga menunjukkan karsinogen, misalnya 4-dimetilaminobenzena. Senyawa ini dikenal sebagai “pewarna kuning mentega”. Senyawa ini digunakan untuk pewarna mentega sebelum diketahui sifat karsinogennya.
Tidak semua karsinogen merupakan senyawa aromatik, beberapa di antaranya adalah nitrosamin dan vinil klorida. Senyawa lainnya merupakan cincin heterosiklik tiga- dan empat-anggota yang mengandung oksigen atau nitrogen, misalnya etilenaimina, epoksida dan turunannya, ester siklik yang juga disebut lakton.

zat aktif pada pembasmi serangga khususnya obat nyamuk yang dapat ditolerir dan relatif aman (masih bisa merusak kesehatan) adalah transfluthrin, bioallethrin, d-allethrin, pralethrin, dan cyphenothrin. Mungkin keefektivannya membunuh nyamuk kurang bisa diandalkan, terutama jenis nyamuk Culex sp. Namun, zat tersebut mampu membuat nyamuk menyingkir dari tempat Anda

Transflutrin
Pada umumnya bahan kimia yang terdapat pada obat pembasmi serangga adalah Transflutrin. Transflutrin adalah salah satu contoh bahan aktif anti nyamuk berbentuk padatan lingkar berwarna hijau. Anti nyamuk bakar ini diambil khasiatnya melalui asapnya yang menyebar ke seluruh ruangan. Transfluthrin relatif aman hingga saat ini. Transfultrin bila dipakai selama empat jam bisa menurunkan kadar eritrosit atau sel darah merah, yang berakibat orang tersebut akan menderita anemia.
Transfluthrin dianggap sebagai salah satu insektisida Pirethroid yang cepat bertindak dengan persistensi rendah. InsektisidaPirethroid memiliki efek yang sangat spesifik pada sel syaraf serangga, sehingga hanya jumlah yang sangat kecil dibutuhkan untuk menghasilkan efek yang diperlukan.

Bioallethrin
S-Bioallethrin adalah suatu pyrethroidinsectisida (obat pembasmi serangga) dengan suatu spektrum aktivitas luas, bereaksi dengan kontak langsung dan mempunyai karakteristik efek “a strong knock down” (efek langsung jatuh pada serangga), bahan ini aktif pada serangga yang terbang dan merayap khususnya pada nyamuk, lalat, tawon, lipas, kutu, kutu busuk, semut, dan lain lain.

D-allethrin
D-Allethrin adalah suatu Pyrethroid campuran, merupakan suatu insektisida kontak kuat yangmenghasilkan “a strong knock-down” cepat, melawan hama-hama rumah tangga (lalat,nyamuk, kutu, kecoak).

Sipermetrin
Sipermetrin berperilaku sebagai neurotoksin,dan cepat bertindak pada serangga

Deltametrin
Terdapat pada kapur bagus. Deltametrin merupakan salah satu piretroidester. Piretroid ini memiliki mekanisme menghasilkan racun atau toksin dan menyebabkan kelumpuhan organisme. Zat tersebut menyebabkan kelumpuhan dengan cara menjaga saluran natrium tetap terbuka dimembran saraf dari suatu organisme. Sehingga dengan terbukanya saluran natrium tersebut saraf tidak dapat terangsang kembali sehingga menyebabkan kelumpuhan.

Propoxur
Propoxur adalah senyawa karbamat (senyawa kerabat dari MIC, pernah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan kerusakan syaraf ratusan ribu orang lainnya dalam kasus Bhopal di India) yang telah dilarang penggunaannya di luar negri karena diduga kuat sebagai zat karsinogenik. Mekanisme aksi Propoxur berupa penghambatan enzim acetyl cholinesterase. Enzim ini normalnya bertanggung jawab untuk destruksi dari asetilkolin (neurotransmitter). Karbamat ini akan menghasilkan kontraksi otot spontan pada serangga yang diikuti oleh kelumpuhan/paralisis.
Dalam jangka panjang, orang yang terpapar zat ini akan menurun aktivitas enzim untuk  saraf transmisi dan berpengaruh buruk pada hati dan sistem reproduksi. Maka, perhatikan kadarnya jika obat nyamuk Anda terdapat zat ini. Di Indonesia, penggunaannya belum dilarang. Berdasarkan peringkat bahan kimia berbahaya yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Propoxur menduduki peringkat kedua sebagai produk berbahaya setelah dichlorvos.

Dichlorvos atau DDVP (dichlorovynil dimetyl phosfat)
Bahkan ada juga obat nyamuk yang menggunakan DDVP atau dichlorvos yang merupakan zat turunan chlorine, yang sejak puluhan tahun dilarang penggunaannya di dunia. Berdasarkan peringkat bahan kimia berbahaya yang dikeluarkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diklorvos menduduki peringkat kesatu sebagai produk paling berbahaya. Jika terkena paparan zat ini dalam jangka panjang, menyebabkan kerusakan syaraf, mengganggu pernafasan, jantung, sistem reproduksi, dan memicu kanker. Kalau obat nyamuk mengandung zat ini, segera tinggalkan.

Diethyltoluamide atau DEET
Zat ini biasanya ada pada obat anti nyamuk berupa cairan atau lotion. Cara kerja DEET adalah akan memanipulasi bau dan rasa yang berasal dari kulit dengan menghambat reseptor asam laktat pada antenna nyamuk sehingga mencegah nyamuk mendekati kulit. Selain itu, mekanisme aksinya dengan cara menghambat aktivitas system saraf pusat dan enzima cetylcholinesterase serangga maupun mamalia. Enzim ini terlibat dalam hidrolisis neuro transmitter asetilkolin, sehingga mempunyai peranan penting dalam mengendalikan neuron otot.
Oleh karena itu, DEET digunakan untuk memblokir acetylcholinesterase yang mengarah pada akumulasi yang berlebihan asetilkolin pada celah sinaptik yang menyebabkan kelumpuhan dan kematian neuromuskuler karena sesak nafas pada serangga maupun mamalia.
DEET ini sangat korosif, obat nyamuk lotion ini tidak dapat disimpan dalam wadah plastik PVC atau besi karena dalam hitungan minggu akan mengikis lapisannya. Bayangkan bila itu kena kulit kita terlalu lama

Beberapa manfaat insektisida, antara lain
  1. Dapat diaplikasikan dengan mudah
  2. dapat diaplikasikan hampir di setiap waktu dan setiap tempat.
  3. Hasilnya dapat dirasakan dalam waktu singkat
  4. Dapat diaplikasikan dalam areal yang luas dalam waktu singkat
  5. Mudah diperoleh dan memberikan keuntungan ekonomi terutama jangka pendek.
Beberapa efek samping yang ditimbulkan oleh penggunaan insektisida ini, antara lain:
  1. Insektisida yang mengandung klorin dapat menyebabkan lapisan ozon menipis dan berlubang. Jika lapisan ozon menipis, maka sinar ultraviolet masuk dan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit.
  2. Obat anti nyamuk mengandung bahan aktif berupa diklorvos, propoxur, pirethroid, dan diethiltoluamid. Semua bahan itu sangat berbahaya karena bisa menyebabkan berbagai macam penyakit ganas. Salah satunya adalah kanker.
  3. Pembuangan bahan-bahan pembasmi serangga yang sudah tidak terpakai secara sembarang dapat menyebabkan rusaknya fungsi lingkungan hidup.
Ada beberapa cara pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari efek samping dari produk pembasmi serangga, antara lain:
  1. Menggunakan produk pembasmi serangga seperlunya.
  2. Tidak menggunakan produk pembasmi serangga aerosol yang mengandung CFC.
  3. Menyimpan obat pembasmi serangga di tempat yang aman dan jauh dari jangkauan anak-anak. 

 


SUMBER Artikel : http://mafia.mafiaol.com/2012/11/bahan-kimia-pembasmi-serangga.html
                              http://endiferrysblog.blogspot.com/2013/01/bahan-kimia-dalamkehidupan-sehari-hari.html
                              http://agrogreenland.blogspot.com/2013/05/pestisida-pengertian-jenis-dan-dampaknya.html
                              http://bakobong.blogspot.com/p/insektisida-adalah-bahan-bahan-kimia.html
                              http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/berita/karsinogen_ancaman_abadi_kehidupan_manusia/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar